Dalam sejarah langga disebutkan bahwa langga sudah ada sebelum Islam masuk ke daerah Gorontalo, yang meng-Islam-kan Rakyat Gorontalo adalah Raja Amai 1523-1550 pada Abad 16 tahun 1525 Amai masuk Islam. sedangkan Ju Panggola orang yang melahirkan langga disebut sebagai Aulia penyebar agama Islam. TAPI kalau di kaji dalam praktek Langga, langga masih mengunakan filsafat Naturalistik dimana nilai-nilai dan norma-norma budaya bersumber dari fenomena alam semesta. Benarkah Ju Panggola sebagai pencipta Langga???# otokritiksejarahlangga
Forum pencinta Budaya Tradisional Gorontalo " Beladiri Langga" CP 085240040657
Rabu, 02 Maret 2016
Rabu, 10 Februari 2016
Sejarah Langga
Asal Usul Langga
oleh
Hartono Hadjarati
Kapan beladiri langga lahir tidak ada yang tahu persis,
lalu bagaimana beladiri ini berkembang. Beladiri langga ini berkembang melalui informasi dari mulut ke mulut,
beladiri langga disebarkan melalui
kisah atau legenda masyarakat Gorontalo.
Ju
Panggola adalah sebuah gelar atau julukan.Ju dalam bahasa Gorontalo yang artinya
ya, dan Panggola berarti tua. Jadi, Ju Panggola berarti ya pak
tua. Menurut sejarah, orang yang dijuluki Ju Panggola itu adalah Ilato
yang berarti kilat. Ia adalah seorang Awuliya
atau Wali yang menyebarkan agama
Islam di Gorontalo dan memiliki kesaktian yang tinggi, yakni mampu menghilang
dari pandangan manusia dan dapat muncul seketika jika Negeri Gorontalo dalam
keadaan gawat. Ia dijuluki Ju Ponggala,
karena ia selalu tampil atau muncul dengan profil kakek tua berjenggot panjang
dan mengenakan jubah putih. Ju Panggola
meninggalkan sebuah aliran ilmu putih yang diterapkan lewat beladiri yang oleh
masyarakat Gorontalo di sebut dengan langga.
Semasa masih hidup, Ju Panggola
mewariskan ilmunya kepada murid-muridnya dengan cara meneteskan air mata pada
mata mereka. Setelah itu, sang murid akan menguasai ilmu beladiri tersebut
melalui mimpi ataupun gerakan refleks. Ju
Panggola meninggal pada abad 14, ini dibuktikan dengan bangunan makam yang
terletak di kelurahan Dembe I kecamatan kota Barat Kota Gorontalo, yang saat
ini oleh masyarakat dianggap kompleks suci.
Beladiri langga terus berkembang, di wilayah
Gorontalo (Hulondahlo), menyebar kesemua kerajaan kecil waktu. Maka muncul Jogugu sebagai kepala keaman waktu itu,
seorang Jogugu sangat ahli dalam
olahkanuragan (langga). pada abad ke
16 beladiri langga, sudah menjadi
beladiri yang sangat populer di semua lapisan masyarakat Gorontalo waktu itu
baik orang dalam kerajaan maupun masyarakat biasa. Puncaknya pada abad ke 17
dalam kerajaan Limboto dan Kerajaan Gorontalo.
Dokumen/ Foto : Jogugu Gorontalo 1870
Sumber : www.gorontaloprov.go.id
1.
Beladiri
Langga Masa Kerajaan
Pada zaman kerajaan
Nusantara, beladiri dijadikan sebagai alat untuk mencapai status dan kedudukan
sosial, seseorang yang menguasai kemahiran beladiri disegani oleh masyarakat
dan dapat mencapai kekuasaan politik, Maryono,(2000) dalam Mulyana 2013.79)
Seiring dengan pesatnya
kebudayaan dan majunya transfortasi (laut dan darat), terjadi perluasan
kekuasan oleh kerajaan satu terhadap kerajaan lainnya. Kemudian mulailah proses
interaksi budaya dan ilmu pengetahuan, baik antara kerajaan rumpun melayu
maupun dengan kerajaan di luar negeri sehingga mengakibatkan proses saling
mempengaruhi termasuk beladiri. Proses saling mempengaruhi inilah yang saling
berperan dalam memberikan aneka ragam gerak beladiri sehingga tidak tampak lagi
keaslian beladiri.
Beladiri langga bukan ilmu yang
statis. Ilmu ini berkembang dari waktu kewaktu. Proses akulturasi merupakan
salah satu penyebab munculnya berbagai aliran dan peningkatan kemampuan
beladiri langga. Perpindahan
penduduk, ekspansi kerajaan dan sifat suka merantau
(moleleyangi) menyebabkan
terjadinya pertemuan dan persilangan antara berbagai ilmu kanuragan (beladiri)
yang saling memberi dan menerima. Oleh karenanya dengan datangnya berbagai suku
dan bangsa ke Gorontalo, tidaklah tertutup kemungkinan terjadinya persilangan
yang memperkaya kemampuan beladiri langga
Gorontalo seperti misalnya ilmu beladiri yang banyak dipengaruhi Kuntao Cina
diberbagai tempat di daerah Gorontalo sudah dianggap sebagai ilmu asli
setempat.
Basri Amein (2012:59 ) mengatakan pada tahun 1930-an secara sosial orang
Gorontalo jarang saling benci dan jarang suka berkelahi,
juga tak punya ciri-ciri negatif. Kalau ada perkelahian
di antara masyarakat itu karena minuman keras (saguer). Walaupun saat itu rata-rata orang Gorontalo mengetahui beladiri
Langga serta mempunyai
pisau belati. Meskipun demikian tak pernah ada perang besar didaerah Gorontalo,
walaupun pada abad ke 17 kerajaan Limboto dan Gorontalo berperang tapi akhirnya
bisa diakhiri dengan kesadaran akan manfaat persahabatan.
Hal ini masih melekat dalam filosofis langga
bahwa kedamaian itu tidak selamanya diselesaikan dalam sebuah pertarungan, ini
bisa dilihat dalam sikap “mohudu”.
Saat “mohudu” atau meragai tidak ada
orang lain menerima maka selama itu pula seorang yang sedang mohudu tidak bisa menyerang orang lain. Hal
ini sesuai dengan falasaf orang Gorontalo, “dila pololehe parakara, wanu
malodungaya dilabo teteo”.
Keadaan daerah
Gorontalo di atas sesuai
yang di tulis oleh F.De Haan (1935:150-160 dalan Djoko
Soekiman,2014,35) yang
mengatakan Gorontalo adalah salah
satu pemasuk prajurit sewaan yang siap pakai oleh pemerintah Hindia Belanda
untuk menjaga wilayah kekuasaanya yang
semakin luas di nusantara, ada banyak hulptroepen (pasukan) yang diserahkan oleh raja Gorontalo, paduka
Muhammad Djain Iskandar Monvarsa, kepada asisten residen Gorontalo, Willem
Laurens Van Gurieke. Dalam perjanjian yang bertanggal 29 Agustus 1828
disebutkan sebanyak 400 orang yang menguasai beladiri langga dibawah oleh putra sulung Hassan Monvarsa yang diberi
pangkat “ Kapitein laut”.
Dokumen : Foto Raja
Gorontalo Iskandar Monoarfa
2. Beladiri Langga Masa Penjajahan
Puncaknya pada tanggal
23 Januari 1942, para pemuda yang dipimpin oleh Nani Wartabone mengadakan
perlawan terhadap kedudukan Belanda di Gorontalo, dengan semangat patriotisme
pemuda-pemuda yang telah dibekali dengan beladiri langga dengan permainan pedang (Longgo), ini mampu mengalahkan
Bangsa penjajah. Belanda merencanakan pembumi
hangusan segala aset di daerah jajahan termasuk di daerah Gorontalo apabila
terjadi serbuan Jepang. Para pemuda ini dikenal dengan pasukan
rimba Nani Wartabone, tapi sangat disayangkan
pasukan rimba, saat ini nasib dan keberadaan mereka tidak banyak diketahui.
Pasukan rimba ini konon direkrut dari pemuda-muda yang telah menguasai beladiri
langga, yang ada didaerah suwawa dimana Bapak Nani Wartabone tinggal.
Kontribusi terakhir pasukan rimba ini ketika penumpasan PERMESTA di Gorontalo.
Dokumen : Pahwan
Gorontalo Bpk Nani Wartabone
dokumen Penelitian : studio Civica Tv
Selasa, 02 Februari 2016
Berbagai Unsur Gerak dalam Beladiri Langga
Foto-foto diatas menunjukan Unsur gerak dasar Moragai atau Mohudu dan mohemeto dalam Beladiri Langga Gorontalo, gerak ini yang harus pertama dikuasai oleh para Pe'Langga.
Mohudu = Wolohuduwolo
Mohameto = Wolohemetalo
Moheupo = Wolo u wa u polo
3 pertanyaan di atas yang harus dikuasai oleh pelangga, Pertanyaan 3 diatas setiap perguruan memiliki teknik dan taktik tersendiri terutama unsur mistiknya.
Gambar diatas Menunjukan Totame wau PopaI sampai dudukeke# Hartono Hadjdarati
Mohudu = Wolohuduwolo
Mohameto = Wolohemetalo
Moheupo = Wolo u wa u polo
3 pertanyaan di atas yang harus dikuasai oleh pelangga, Pertanyaan 3 diatas setiap perguruan memiliki teknik dan taktik tersendiri terutama unsur mistiknya.
Gambar diatas Menunjukan Totame wau PopaI sampai dudukeke# Hartono Hadjdarati
Minggu, 17 Januari 2016
Falsafah Beladiri Langga
Falsafah Beladiri Langga
oleh
Hartono Hadjarati
Pembinaan beladiri tradisional yang
mengandung falsafaf budi pekerti luhur dijiwai oleh nilai-nilai masyarakat
melayu yang mengajarkan nilai-nilai seperti : taqwa yang artinya beriman kepada
Tuhan Yang Maha Esa; tanggap artinya
peka terhadap perubahan, bersikap berani, dan terus meningkatkan kualitas diri;
tangguh artinya ulet dalam usaha mengembangkan kemampuan agar dapat menghadapi
dan menjawab setiap tantangan guna mencapai sutau tujuan; tanggon berarti
sanggup menegakkan keadilan, kejujuran, kebenaran, mempunyai harga diri, sikap
ksatria yang mandiri dan percaya diri; trengginas berarti energik, kreatif,
inovatif, dan mau bekerja keras untuk kemajuan yang bermanfaat bagi masyarakat
(Mulyana,Vii,2013)
Falsafah
pada dasarnya adalah pandangan dan kebijaksanaan hidup manusia dalam kaitan
dengan nilai-nilai budaya, nilai sosial, nilai moral dan nilai agama yang
dijunjung tinggi oleh masyarakat. Pada awal munculnya Langga ‘Ju Panggola’ telah meletakan falsafa dalam diri pe’langga yakni tangguh, Mo’e’a dan Motuli’ato, tangguh artinya pe’langga sanggup menegakkan keadilan di
bumi hulondholo (Gorontalo), sikap
ksatria dan mempunyai harga diri agar mendapatkan kepercayaan diri untuk
membangun dan menjaga kedamaian untuk manusia sekitarnya. Diharapkan dengan
adanya beladiri langga bisa mencetak pe’langga
Mo’e’a, pe’langga yang tidak bisa tunduk begitu saja kepada keadaan, pe’langga harus reaktif terhadap hal-hal
yang baik. Motuli’ato berarti pe’langga
harus energik, kreatif, inovatif, karena beladiri langga sangat dominan dalam
komponen fisik kecepatan reaksi, daya tahan, serta ketepatan, disinilah
dibutuhkan kreatifitas pe’langga
untuk memberdayaakan potensi dalam dirinya, serta mau bekerja keras untuk
kemajuan yang bermanfaat bagi masyarakat Gorontalo.
Dalam
falsafah beladiri langga ada suatu
etika, yakni ketika pe’langga melakukan pertarungan langga, yakni harus jelas siap yang melakukan sikap ‘mohudu’ atau di pencak silat dikenal
dengan sikap pasang, selama yang mohudu
ini tidak melakukan penyerangan maka pihak lawan tidak bisa melakukan serangan
terlebih dahulu. Dia menunggu sampai ada gerak menyerang dari pihak yang mohudu tadi, sampai tidak penyerangan
maka, itu akan terjadi kedamaian atau kesepakatan damai, pada intinya semua
persoalan bukan harus di selesaikan dengan pertarungan kalah menang. Etika pada
hakekatnya mengamati realitas moral secara kritis. Etika tidak memberikan
ajaran, melainkan memeriksa kebiasaan-kebiasan, nilai-nilai, norma-norma dan
pandangan-pandangan moral secara kritis. Etika berusaha untuk menjernihkan
permasalahan yang terjadi.
Nenek moyang orang Gorontalo sebelum masuknya Islam di
abad ke-XV mengharuskan atas dirinya untuk menjunjung tinggi nilai harmoni,
yakni harmoni dengan lingkungan hidup maupun dengan lingkungan abiotik pada
semesta alam. Kemujuran dan kemalangan ditentukan oleh daya akomodasinya
terhadap unsur harmoni. Maka segala apa yang dilahirkan oleh akal, di zaman
itu, mestilah selaras dengan ketentuan hukum semesta. Identifikasi atas benda
dan peristiwa dapat dibenarkan hanya jika tidak mengganggu harmoni. Dengan kata
lain, pengetahuan tertinggi dan terbenar yang harus dicapai ialah yang menjamin
keberlangsungan harmoni kehidupan. Pandangan atas harmoni itu yang, kemudian,
merangsang sikap ingin tahu di tengah lingkungan alam perbukitan dan hutan belantara
yang diapit samudera luas (Popyram Asriyani,29: 2009, Elnino,2008).
Beladiri langga adalah sarana untuk mencapai harmoni pikiran dan aktivitas
gerak dalam tubuh. Tujuan mempelajari dinamika tubuh dan pikiran untuk mengali
potensi dalam diri sendiri. Beladiri langga
adalah seni beladiri yang dasar gerak untuk lebih membaca bahasa tubuh dan jiwa untuk
mengembangkan fisik pe’langga ini bisa dilihat dalam prosesi “Pitodu”
Ketika itu tidak ada guru langga, yang memberikan
langsung jurus-jurus beladiri langga, mereka belajar secara otodidaktik dan
kemandirian. Alamlah yang menjadi mahaguru tunggal, sumber inspirasi, sumber
logika satu-satunya. Itulah sebabnya ilmu beladiri langga dalam struktur
geraknya lebih bernuansa filsafat air. Air, misalnya, menjadi salah satu sumber
terbentuknya kebudayaan dan adat-istiadat. Ungkapan taluhuhe yito tumolohu
de moopa (sifat air selalu mencari tempat yang rendah) dimaksudkan
agar manusia bersifat rendah hati. Sifati taluhu mololohe deheto (sifat
air bergerak mengalir menuju samudra) dimaksudkan agar setiap insan terus
berusaha dengan tekun sampai tujuannya tercapai. Wonu moda’a taluhu,
pombango moheyipo (Jikalau banjir, pinggiran sungai pun pindahlah)
bermaksud; jikalau ada yang lebih tinggi ilmu langga, maka seorang pe’langga
menghormati yang diwujudkan dengan molubo
kepada orang tersebut.
Falsafah air berkembang di Gorontalo karena lingkungan
hidup mereka adalah lingkungan air, yakni danau, telaga dan sungai begitu
banyak di daratan ini. Hal ini bisa dilihat dalam kuda-kuda beladiri langga, dengan pola langkah yang
seakan-akan berjalan di dalam derasnya arus air sungai, dengan salah satu kaki
atau keduanya seakang mecenkram serta menopang sebagaian berat badan dan
cendrung bersifat aktif maupun pasif. Seorang pe’langga yang telah mampu
mencapai harmoni pikiran dan gerak tubuh akan mampu membedakan serangan lawan
melalui bahasa tubuh dan jiwa penyerang, Hal ini terwujud dalam ungkapan totame mauitolo popai (tangkisan sudah
itulah pukulan/serangan balik). Selanjutnya, filsafat Gorontalo dihiasi pula
dengan pemikiran tentang api, udara dan tanah. Manusia dianggap sempurna ketika
ia mampu mendarahdagingkan sifat-sifat keempat anasir itu ke dalam dirinya.
Itulah yang dianggap sebagai “kebenaran obyektif” di masa itu.## Hartono Hadjarati
.
Rabu, 02 Desember 2015
Mengembangkan karakteristik anak remaja Melalui Aktivitas Beladiri Tradisional Langga Gorontalo
Upaya mengembangkan karakteristik anak remaja (SMP)
Melalui Aktivitas Beladiri Tradisional Langga Gorontalo
Oleh
Hartono
Hadjarati
Masa
remaja merupakan masa untuk mencari identitas/jati diri. Individu ingin
mendapat pengakuan tentang apa yang dapat ia hasilkan bagi orang lain. Apabila
individu berhasil dalam masa ini maka akan diperoleh suatu kondisi yang disebut
identity reputation (memperoleh identitas). Apabila mengalami kegagalan, akan
mengalami Identity Diffusion (kekaburan identitas). Masa remaja termasuk masa
yang sangat menentukan karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak
perubahan pada psikis dan fisiknya. inilah yang terjadi pada masa remaja saat
ini, mengalami masa remaja yakni masa
sekolah tingkat pertama (SMP), dimana masa ini banyak hal yang menjadi
pekerjaan orang tua maupun lembaga pendidikan (Sekolah) tentang pencarian
jatidiri seorang anak remaja.
Berbagai
sudut pandang ilmu sudah dikemukan oleh para ahli untuk merumuskan gejolak
remaja ini, dan berbagai solusipun di tawarkan baik untuk para orang tua maupun
para pendidik (guru), untuk mengatasi fenomena remaja yang lebih banyak
negatifnya, liat saja tauran sesama reamaja beda sekolah, fenomena cabe-cabean
yang dilakukan oleh kaum remaja saat ini. sekolah menjadi tumbuan orang tua
tidak bisa berbuat banyak, karena anak di dalam lingkungan sekolah waktunya
hanya 7-8 jam saja, sisa berada di dalam masyarakat atau orang tua. Sebagai
makhluk sosial, individu dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan
yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu
menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Oleh karena itu
setiap individu dituntut untuk menguasai keterampilan-keterampilan sosial dan
kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya. Keterampilan-keterampilan tersebut
biasanya disebut sebagai aspek psikososial. Keterampilan tersebut harus mulai
dikembangkan sejak masih anak-anak, misalnya dengan memberikan waktu yang cukup
buat anak-anak untuk bermain atau bercanda dengan teman-teman sebaya,
memberikan tugas dan tanggungjawab sesuai perkembangan anak. Dengan
mengembangkan keterampilan
tersebut sejak dini maka akan memudahkan anak dalam memenuhi tugas-tugas perkembangan
berikutnya sehingga ia dapat berkembang secara normal dan sehat.
Keterampilan
sosial dan kemampuan penyesuaian diri menjadi semakin penting manakala anak
sudah menginjak masa remaja. Hal ini disebabkan karena pada masa remaja
individu sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dimana pengaruh
teman-teman dan lingkungan sosial akan sangat menentukan. Kegagalan remaja
dalam menguasai keterampilan-keterampilan sosial akan menyebabkan dia sulit
menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya sehingga dapat menyebabkan rasa
rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku yang kurang
normatif (misalnya asosial ataupun anti sosial), dan bahkan dalam perkembangan
yang lebih ekstrim bisa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja,
tindakan kriminal, tindakan kekerasan.
Di
Amerika serikat untuk mengatasi permasalahan sosial atau kenalan remaja ini
melalui berbagi cara baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah yakni dengan
masukan anak-anak dalam berbagai aktivitas fisik (pendidikan jasmani) itu kalau
dalam sekolah, di luar sekolah anak-anak remaja di masuk ke klub-klub olahraga
yang di ada dilingkungan remaja itu tinggal. Berdasarkan kondisi tersebut
diatas maka amatlah penting bagi remaja untuk dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan
sosial dan kemampuan untuk menyesuaikan diri. Permasalahannya adalah bagaimana
cara melakukan hal tersebut dan aspek-aspek apa saja yang harus diperhatikan.
melalui tulisan ilmia ini penulis menawarkan sosuli yang tepat untuk mengatasi
fenomena remaja dengan karaktersitiknya yang unik yakni melalui aktivitas
fisik beladiri tradisional silat Langga. olahraga khas Gorontalo ini akan
menjadi alternatif bagi remaja muda Gorontalo untuk mengatasi hal diatas karena
seseuai dengan karakter masyarakat Gorontalo itu sendiri.
Beladiri
silat langga sama karakternya dengan
beladiri pada umumnya, yang unsur memukul, menendang, menghindar dan lain-lain.
dalam beladiri silat Langga ini ada
sikap-sikap yang harus di patuhi yang menjadi filosofi dari setiap beladiri
yakni Pembentukan sikap merupakan dasar dari pembentukan gerak yang meliputi
sikap jasmaniah dan Rohaniah,. Sikap jasmaniah adalah kesiapan fisik tubuh
untuk melakukan gerakan-gerakan dengan kemahiran teknik yang baik. sikap
rohaniah adalah kesiapan mental dan pikiran untuk melakukan tujuan dengan
waspada, sikap siaga,praktis dan efesien.
Rabu, 04 November 2015
Profil Pe'langga di Provinsi Gorontalo
Pakuni Tani (Suwawa)
Imana (Gorontalo Utara)
Batu layar ( Kab. Gorontalo)
Molopatodu (Kab. Gorontalo)
Rabu, 02 September 2015
Monumen Langga Gorontalo
Terimakasih di Ucapkan kepada Pemerintah Provinsi Gorontalo Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur Gorontalo yakni Bpk Rusli Habibie dan Bpk Dr. Idris Rahim (NKRI) yang telah membuat Monumen Langga semoga ini sangat bermanfaat untuk pelestarian Budaya khas Gorontalo di bidang beladiri. sebagai hadiah HUT kemerdekaan ke 70 RI tahun 2015
Monumen Beladiri Langga Gorontalo
2015
Langganan:
Postingan (Atom)







