Senin, 05 September 2016

Analisis Keseimbangan dalam beladiri langga

Analisis Fisiologi Olahraga Terhadap Beladiri Langga
(ditinjau dari Fisiologi Kesimbangan Sikap Pasang)

 oleh
Hartono Hadjarati

           KESEIMBANGAN Sebutan lain : 1. Equilibrum 2. Balance 3. Poise (sikap tenang) 4. Position (keadaan sikap kedudukan) 5. Stance (sikap) Keseimbangan ialah : keadaan tenang atau tidak bergerak dari suatu benda atau objek. Titik berat badan (centre of gravity) dapat dikatakan sebagai titik keseimbangan. Dan letaknya tetap, selama tidak berubah. Garis berat tubuh ialah arah gaya gravitasi yang bekerja pada titik berat. Merupakan garis vertical yang melalui titik berat. Garis berat manusia ialah garis vertical yang melalui titik berat badan. Setiap perubahan letak titik berat akan menyebabkan perubahan posisi garis beratnya.
     Tingkat keseimbangan (kesetimbangan) " semua benda yang diam (sesuia dengan syarat-syaratnya) dikatakan dalam keadaan seimbang..... Namun tidak semua benda yang diam memiliki stabilitas yang sama". Hal ini bisa dilihat dalam beladiri langga terutama dalam sikap pasang yakni : sikap pasangan dengan kuda-kuda tinggi memiliki keeimbang mantap (stabil), Seimbang mantap (stabil), terjadi jika posisi sebuah objek diubah sedikit dan objek tersebut cenderung untuk kembali pada posisi semula. Seimbang goyah (labil) Seimbang goyah (labil) : terjadi bila titik berat objek jatuh pada titik yang lebih rendah jika objek tersebut di angkat. Seimbang neteral (indifferent) . Seimbang neteral (indifferent) : terjadi jika terjadi sedikit dorongan, objek tersebut tidak akan jatuh ke belakang atau ke depan.
          Analisis Hukum Newton dengan Aplikasi Dikaitkan dengan Kegiatan Beladiri Langga
1. Hukum I      :  Hukum Kelembaman  (Law of intertia)
Ketika  beladiri langga baru dimulai maka kedua Pelangga yang melakukan pertandingan belum melakukan suatu gerakan apapun. Ketika wasit mulai menentukan Pelangga mana yang boleh bergerak mohudu untuk menyerang mohemeto dalam beladiri langga dalam hal peraturannya ada pelangga yang melakukan sikap pasang “mohudu’ yang mohudu adalah posisi cari lawan, sedengankan yang merima tangganan adalah disebut pelangga “mohemeto”. Pelangga yang melakukan sikap Mohudu  akan diam karena belum mendapatkan penyerangan dari pelangga mohemeto, barulah pelangga mohudu akan bergerak ketika ia mendapatkan sebuah gaya dari pelangga yang mohemeto. Hal ini sesuai dengan pernyataan pada hukum Newton I yakni Hukum Kelembaman yang menyatakan suatu benda akan tetap dalam keadaan diam atau dalam keadaan gerak kecuali karena pengaruh gaya yang merubah keadaannya
2. Hukum II    :  Hukum Percepatan (law of acceleration)
Pada beladiri langga, seorang pelangga ”mohemeto” yang  dapat menyerang pelangga yang posisi muhudu disesuailkan dengan sudut serangan yang dilakukan oleh pelangga Mohemeto. Pelangga mohemeto menyerang dengan menggunakan siku dengan sudut tertentu sehingga dapat merobohkan lawan. Maka gaya yang diberikan oleh pelangga mohemeto untuk menyerang pelangga Mohudu berbanding lurus dengan percepatan ketika Mohudu jatuh. Penjelasan di atas sesuai dengan pernyataan pada Hukum Newton II yakni Hukum Percepatan yang menyebutkan bahwa Percepatan suatu benda karena suatu gaya berbanding lurus dengan gaya penyababnya.
3. Hukum III   :  Hukum Reaksi (Law of reaction)

Dalam beladiri tentunya terdapat dua pelangga yang berusaha untuk menjadi pemenang. Jika pelangga mohemeto menyerang pelangga mohudu, maka pelangga mohudu dapat juga mnyerang kembali pelangga mohemeto dengan tempat yang berlawanan. Misalnya saja pelangga mohemeto menyerang perut pelangga mohudu maka pelangga mohudu dapat melawan dengan menyerang kembali bagian dada atau bahkan menjatuhkannya. Pelangga mohemeto menyerang kembali karena berusaha mempertahankan dirinya agar tidak terjatuh. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan hukum Newton III yakni Hukum Reaksi yang berbunyi setiap aksi selalu ada rekasi yang sama dan berlawanan. Hal ini lebih dikenal dengan “Totame maitolo popai”# selamatkan beladiri langga dari kepunahan

Selasa, 16 Agustus 2016

Beladiri Langga Terintegrasi dalam Pembelajaran PJOK di Sekolah


Mengembangkan Apresiasi Terhadap Kekhasan Multikultural Dengan Mengenalkan Permainan Dan Olahraga Tradisional Yang Berakar Dari Budaya Gorontalo
(Beladiri Langga Terintergrasi Pada Pembelajaran PJOK di Sekolah SMP)

oleh

Hartono Hadjarati

    Abad ke 21 sudah kita masuki dengan segala tantangan dan permasalahannya. Dunia di abad 21 ini sungguh telah menampilkan wajah yang amat berbeda dari abad sebelumnya. Kemajuan teknologi dan informasi (IT) yang berhasil dicapai ikut mempengaruhi wajah dunia dan segala interaksinya menjadi lebih praktis, maju, modern serta mengunggulkan kepakaran dan pemahaman penggunaan teknologi tinggi untuk memecahkan persoalan kehidupan sehari-hari. Dalam abad yang semakin mengglobal tersebut, pendidikan perlu didorong untuk mampu membekali anak didik dengan kompetensi yang dibutuhkan dari mulai kemampuan berpikir kritis, kreativitas, keterampilan berkomunikasi dan kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Tema pengembangan Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi, relevan dengan tantangan abad 21 tersebut.
   Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) merupakan salah satu mata pembelajaran pada Kurikulum 2013. PJOK merupakan bagian integral dari program pendidikan nasional, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui pembekalan pengalaman belajar menggunakan aktivitas jasmani terpilih dan dilakukan secara sistematis. Kurikulum 2013 menekankan bahwa mata pelajaran PJOK memiliki konten yang unik untuk memberi warna pada pendidikan karakter bangsa, di samping diarahkan untuk mengembangkan kompetensi gerak dan gaya hidup sehat. Muatan kearifan lokal dari Kurikulum 2013 diharapkan mampu mengembangkan apresiasi terhadap kekhasan multikultural dengan mengenalkan permainan dan olahraga tradisional yang berakar dari budaya suku bangsa Indonesia (Muhajir,2016)
   Kurikulum 2013 dirancang untuk memperkuat kompetensi peserta didik dari sisi pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara utuh. Keutuhan tersebut menjadi dasar dalam perumusan kompetensi dasar tiap mata pelajaran, sehingga kompetensi dasar tiap mata pelajaran mencakup kompetensi dasar kelompok sikap, kompetensi dasar kelompok pengetahuan, dan kompetensi dasar kelompok keterampilan. Semua mata pembelajaran dirancang mengikuti rumusan tersebut. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (selanjutnya disingkat PJOK) pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam bentuk fisik, mental, serta emosional. Sebagai mata pembelajaran, PJOK merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional sportivitas-spiritual-sosial).
     Berdasarkan uraian di atas bahwa kurikulum 2013 berisi konten yang unik dan mengandung makna kearifan lokal, dimana guru atau siswa di harapkan mampu menggali potensi-potensi olahraga tradisional untuk dapat diberikan kepada siswa-siswa melalui pembelajaran PJOK sebagai apresiasi terhadap kekhasan multikultural yang beragar pada budaya suku bangsa. Olahraga tradisional harus sesuai dengan hakikat dari PJOK itu sendiri yakni memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu siswa, baik fisik, mental, serta emosional.
      Kurikulum 2013 khsusu pembelajaran PJOK didalamnya ada aktivitas beladiri sebagai salah satu konten untuk mencapai harapan yang telah diuraikan diatas yakni melalui beladiri pencak silat, pencak silat atau silat (berkelahi dengan mengunakan teknik pertahanan diri) seni beladiri Asia yang beragar dari budaya melayu. Beladiri merupakan satu seni yang timbul sebagai satu cara seseorang untuk mempertahankan diri, dibalik itu dalam sebuah seni beladiri mengandung makna ajar filosofis yang dalam untuk di kuasai oleh individu yang ingin belajar beladiri, ajaran atau filosofis ini seperti yang dijabarkan sebagai hakikat PJOK. Seiring perkembangan pencaksilat lebih ke olahraga prestasi maka makna-makna pokok didalam hilang, tergantikan dengan kalah menang.
    Sarjono dan Sumarjo (2010) mengungkapkan bahwa dalam pembelajaran pencak silat pokok-pokok dari pencak silat terhilangkan, atau dimudahkan saat pencak silat menjadi olahraga prestasi. Oleh karena itu sebagian praktisi silat tetap mengingikan pembelajaran beladiri pencak silat di sekolah memfokuskan pada bentuk-bentuk tradisional atau spritual dari pencak silat. Tapi hal ini sulit dilaksanakan karena bentuk-bentuk gerakan dalam buku panduan maupun pemberi materi lebih fokus pada peningkatan keterampilan sebagai hasil produk bukan suatu proses, karena menjadikan nilai tes menjadi acuan. Disisi lain adanya pertandingan pencak silat dalam rangka O2SN atau yang lainnya maka guru lebih fokus terhadap pertandingan di banding mencapai hakikat PJOK itu sendiri. Menurut (Setya Rahayu, 2013) bahwa hal ini disebabkan terlalu menitik beratkan pada aspek kongnitif, beban siswa terlalu berat, kurang bermuatan karakter, harus dilakukan langkah penguatan proses yakni proses pembelajaran dan proses nilai, mengukur proses kerja siswa, bukan hanya hasil kerja siswa.
    Pembelajaran merupakan proses interaktif antara guru dengan peserta didik, melibatkan multi pendekatan dengan menggunakan teknologi yang akan membantu memecahkan permasalahan faktual di dalam kelas. Terdapat tiga komponen dalam definisi pembelajaran, yaitu: pertama, pembelajaran adalah suatu proses, bukan sebuah produk, sehingga nilai tes dan tugas adalah ukuran pembelajaran, tetapi bukan proses pembelajaran. Kedua, pembelajaran adalah perubahan dalam pengetahuan, keyakinan, perilaku/sikap. Perubahan ini memerlukan waktu, terutama ketika pembentukan keyakinan, perilaku dan sikap. Guru tidak boleh menafsirkan kekurangan peserta didik dalam pemahaman sebagai kekurangan dalam pembelajaran, karena mereka memerlukan waktu untuk mengalami perubahan. Ketiga, Pembelajaran bukan sesuatu yang dilakukan kepada peserta didik, tetapi sesuatu yang mereka kerjakan sendiri. Artinya, pembelajaran gerak merupakan kebutuhan dasar bagi setiap anak, tanpa harus dipengaruhi instruksi dari orang lain. Ketiga hal ini yang mempengaruhi kualitas pembelajaran PJOK, selain peluang untuk belajar, konten yang sesuai, intruksi yang tepat, serta penilaian peserta didik dan pembelajaran.
  Pendidikan Jasmani mengandung makna pendidikan yang menggunakan aktivitas jasmani untuk menghasilkan peningkatan secara menyeluruh terhadap kualitas fisik, mental, dan emosional peserta didik. Kata aktivitas jasmani mengandung makna bahwa pembelajaran berbasis aktivitas fisik. Kata olahraga mengandung makna aktivitas jasmani yang dilakukan dengan tujuan untuk memelihara kesehatan dan memperkuat otot–otot tubuh. Kegiatan ini dapat dilakukan sebagai kegiatan yang menghibur, menyenangkan atau juga dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi. Sementara kualitas fisik, mental dan emosional disini bermakna, pembelajaran PJOK membuat peserta didik memiliki kesehatan yang baik, kemampuan fisik, memiliki pemahaman yang benar, memiliki sikap yang baik tentang aktivitas fisik, sehingga sepanjang hidupnya mereka akan memiliki gaya hidup sehat dan aktif (Hartono, 2014)
M. Nuh dalam Muhajir dan Budi Sutrisno (2014) mengatakan sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam Kurikulum 2013, siswa diajak menjadi berani untuk mencari sumber belajar lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran guru dalam meningkatkan dan menyesuaikan daya serap siswa dengan ketersediaan kegiatan pada buku sangat penting. Guru dapat memperkayanya dengan kreasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan sosial dan alam.
   Dengan penjelasan di atas maka penulis menawarkan solusi dari berbagai presepsi masyarakat untuk mencapai hakikat PJOK, guru PJOK se provinsi Gorontalo mengunakan beladiri langga sebagai sumber lokal untuk pembelajaran aktifitas beladiri atau pembelajaran terintegrasi, untuk meningkatkan kearifan lokal, yakni beladiri langga, sebagai alternatif materi dalam Bab aktifitas beladiri dalam kurikulum 2013 yang telah di revisi pada tahun 2016.
    Beladiri langga menjadi pembelajaran terintegrasi PJOK di sekolah-sekolah di Gorontalo akan membawah manfaat yang luar bias dampaknya kepada siswa dan beladiri langga itu sendiri, sesuai dengan harapan pemerintah melalui PJOK. Muatan kearifan lokal dari Kurikulum 2013 diharapkan mampu mengembangkan apresiasi terhadap kekhasan multikultural dengan mengenalkan permainan dan olahraga tradisional yang berakar dari budaya suku bangsa Indonesia.
    Hasil wawancara dengan berbagai elemen masyarakat Gorontalo, sekarang saatnya beladiri langga menjadi bagian dari pembelajaran dalam kurikulum disekolah hal ini sesuai dengan konsep kurikulum 2013, seperti yang telah diuraikan diatas, mengapa beladiri langga menjadi alternatif secara konsep dan karateristik beladiri langga memenuhi syarat sebagai beladiri yang memiliki kandungan-kandungan filosifis yang saat ini sudah di miliki oleh masyarakat Gorontalo. beladiri tradisional  Langga sebagai beladiri asli Gorontalo yang perlu di kembangkan dan disosialisasikan lagi kepada generasi muda terutama para siswa sekolah, Beladiri langga adalah sumber belajar lain yang tersedia yang perlu di berikan.
    Karena beladiri langga juga sebagai bagian dari pencak silat yang memiliki karaktristik gerak yang sama, bediri langga yang sudah dikenal, diharapakan menjadi bagian dari pembelajaran PJOK sebagai muatan lokal atau sumber belajar lokal yang berkontribusi terhadap tujuan pendidikan Indonesia, yang diatur dalam sistem pendidikan nasional. Didalam beladiri langga juga diajarkan, memahami, menghayati nilai-nilai luhur beladiri  seperti disiplin, jujur, tanggung jawab, kerja sama, dan toleransi dengan baik dan benar.
   Pembelajaran tentu saja merupakan kegiatan yang mendukung terjadinya proses belajar. Dalam Undangan-undangan sistem pendidikan RI No 20 Tahun 2003 pasal 1,butir 20. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. (Mulyasa E.2006) mengatakan pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Hal ini peserta didik dan beladiri langga sebagai lingkungan telah terjalin hubungan yang baik yakni faktor internal dan eksternal telah menyatu dengan baik, maka akan membawah perubahan perilaku yang lebih baik pula. Pembelajaran merupakan proses dimana suatu lingkungan secara disengaja dikelola untuk menghasilkan respon terhadap situasi dan kondisi tertentu yang mana pembelajaran ini merupakan substansi dari pendidikan, (Dimyanti dan Mudjiono,2009) Pembelajaran merupakan aktifitas pendidik atau guru secara terprogram melalui desain insruktional agar peserta didik dapat belajar secara aktif dan lebih menekankan pada sumber belajar yang disediakan. Berdasarkan pendapat dari para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses atau usaha dari individu yang berupa pengalaman untuk memperoleh perubahan-perubahan dalam hidupnya

Sabtu, 02 Juli 2016

Tradisi Tumbilotohe dan Mo Langga Oleh Msayarakat Tapa-Bulango


Tradisi Tumbilotohe dan Mo Langga
Hartono Hadjarati

Foto Ismet Ishak
   Setiap akhir bulan ramadhan yakni tepatnya pada malam ke 27 Ramadhan masyarakat Tapa Bulango, merayakan tradisi tumbilotohe dan Mo Langga, dua tradisi ini tidak dipisahkan dari gegap gempitanya masyarakat Tapa-Bulango dalam menyambut Idul Fitri, lapangan IPPOT Tapa menjadi titik utama dalam perayaan kedua tradisi ini, dari seluruh  desa se-Tapa-Bulango pasti akan bertemu di lapangan IPPOT Tapa, lapangan yang menjadi simbol persaudaraan Tapa bersatu.
    Tradisi Tumbilotohe hanya akan sampai pada puncak malam 29 ramadhan (Tolohui) sedangkan tradisi mo langga puncaknya setelah sholat Idul Fitri. Tokoh adat Bulango mengatakan bahwa tradisi ini sejak dulu telah berlangsung di Tapa, tapi sayang dekade tahun akhir 1997 dan 2000 mo langga sudah hilang, terhempas oleh meriahnya Tumbilotohe masyarakat lebih fokus pada 1 tradisi ini, tapi sejak 2015 dan tahun 2016 ini kembali di adakan oleh panitia (almarhum Rahmat Bereki, Cs). Menurut Hamid Deletu tokoh adat Bulango bahwa sebenarnya mo langga saat idul fitri ini terkandung nilai yang sangat tinggi, yakni hakekat saling maaf memaafkan “ mo luluta totonula uhialalata to duhelo” oleh masyarakat tempo dulu di simbolkan dengan mo langga. Wujud saling maaf memaafkan itu dalam gerak mohudu wa mohemeto, Mohudu simbol orang minta maaf sedangkan yang posisi mohemeto adalah simbol menerima maaf. Tapi sayang nilai-nilai ini tidak di pahami betul oleh orang-orang pelangga, mereka lebih memperlihatkan kemahiran (moragai). Maka tidak heran mo langga dulunya untuk saling bersilaturahmi sesama masyarakat menjadi ajang yang berujung perkelahian, yang memyebabkan perpecahan dan saling dendam hal ini salah satu penyebab tidak digelarnya tradisi mo langga itu.
  Sebab itu pelangga harus lebih dewasa lagi untuk melakukan langga dalam rangka merayakan trasidi tahuanan ini agar kedua tradisi ini akan menjadi ikon wisata religi dalam rangka menyabut bulan suci ramadhan.# savetradisimolangga2016#savetumbilotohe.

Foto Ismet Ishak (Komdan Is)





Minggu, 05 Juni 2016

Simbol gerak sebagai alat komunikasi dalam beladiri langga




Dalam beladiri langga dalam konsep geraknya melahirkan suatu simbol sebagai alat komunikasi saat memulai suatu pertandingan atau tantangan dari lawan, simbol ini berbentuk wujud sikap gerak mohudu. Tubuh manusia dapat dikatakan sebagai simbol, karena manusia dapat mengungkapkan dan melaksanakan dirinya dalam bentuk simbol. Caranya dapat berupa kegiatan indrawi maupun melalui gerakan dan bahasa tubuh. Sistem Simbol yang digunakan oleh pelangga saat sikap mohudu untuk mengirimkan atau menyampaikan pesan kepada lawan dalam hal ini yang mohemeto patungo, simbol berapa gerak tangan dalam beladiri langga yang harus dipahami oleh pelangga yakni 1) sikap muhudu tangan luruh menghadap keatas adalah simbol atau pesan kepada lawan akan dijatuhkan dengan mobulingaya 2) sikap muhudu tangan luruh menghadap kebawah adalah simbol atau pesan kepada lawan akan dijatuhkan dengan modambaO 3) sikap muhudu tangan luruh menghadap miring adalah simbol atau pesan persahabatan, biasa simbol ini banyak digunakan untuk pertandingan demonstrasi. by Hartono Hadjarati

contoh Mohudu dengan simbol Mopobulingaya/simbol tidak memilih lawan. dengan sikap ini orang tidak akan simpatik dan cendrung tidak baik karena akan membawah malapetaka kepada pelangga sendiri.

mohudu dengan simbol persahabatan










Rabu, 04 Mei 2016

Defenisi setiap nama dalam Beladiri Langga


Istilah-istilah Dalam Beladiri Langga Gorontalo

Pitodu adalah Proses tradisi wajib dijalani oleh pemula ‘Pelangga’ saat pertama kali belajar Langga, dilakukan secara teratur  dan penuh Tatakrma mendasari kesakralan eksistensi Langga tradisional konservatif pada akar budaya Gorontalo yang berdasar pada lahirnya beladiri Langga

 Bulontala Suwawa Selatan
Ilomata : Atingola Gorut
Batu Layar : Bongomeme Kab. Gorontalo

Moragai adalah rangkaian gerak yang tersusun mulai dari Mohudu atau Mohemeto, DudutaO, ToTame wau PopaI, menjadi suatu bentuk gerak popoli yang memiliki nilai keindahan dan kewibawaan dengan ciri  hentakan kaki ketika melangkah, dilakukan dalam keadaan sadar dan kewaspadaan tinggi dengan emosi tetap terkontrol baik, sehingga lawan kehilangan gairah untuk menantang.

 Mohudu
Mohemeto

Totame wau PoPaI


By Hartono Hadjarati

Jumat, 15 April 2016

Langga Sebagai Beladiri



Langga Sebagai Beladiri
BY
Hartono Hadjarati

Bersama Guru langga BuA Desa Ilomata Gorut. Bpk Ismail Jahiji (Pa Tinggi Sumo)

Langga sebagai sebuah fenomena beladiri, terbilang cukup unik, Langga berfungsi sebagai alat atau cara pembelaan diri dengan tangan kosong. Tujuan Langga tidak hanya membentuk pe’langga agar mampu membela diri terhadap lawan, namun juga meningkatkan “kesadaran” spritual seorang pe’langga terhadap eksistensi dirinya sendiri, sesamanya dan alam semesta.
Konsep teknik beladiri Langga secara fisik berupa penggunaan faktor arah dan tenaga lawan untuk dipergunakan oleh Pe’langga dalam mengagalkan serangan lawan, dengan balik peyerang, “Totame MaUi Tolo PopaI” tenaga lawan tidak dihindari atau ditentang, tapi dimanfaatkan untuk menyerang balik, dengan mengunci serangan atau menjatuhkan lawan.
Langga adalah cara mempertahankan diri dengan teknik beladiri. Langga adalah seni untuk menyelamatkan diri dari serangan yang langsung maupun tidak langsung. Ju Panggola sebagai pencipta Langga dengan tujuan menjadi alat rekonsiliasi artinya langga idealnya adalah alat untuk mencari persaudaraan, perdamaian. Bukan sebagai sarana yang justru merenggangkan hubungan dengan manusia lain. Karena langga adalah alternatif terakhir yang terpaksa diambil bila tiada jalan lain untuk menemukan kedamaian. Jalan langga adalah jalan untuk menghentikan semua bentuk perseturuan yang didasari jiwa kasih sayang. Dengan demikian langga akan berfungsi sebagai pengayom, bukan perusak.
“Molopato Tonula Hiala laAta to hila hila lo taU”
Langga tidak memiliki struktur gerak yang baku sampai saat ini, tapi teknik langga dirancang untuk merusak, meskipun potensi untuk hal tersebut tetap besar, yakni konsep gerak “molelapo to tonula leletua” artinya mengunci semua persendian. Teknik Mohudu dalam langga dirancang untuk memberikan lebih banyak pilihan kepada lawan dalam mengakhiri konflik perkelahian secara bijaksana.
Semua beladiri mempunyai kelebihan dan keterbatasan sendiri. Setiap manusia mempunyai potensi, inisiatif, cipta,rasa, karsa dan inovasi sendiri. Masing-masing orang mempunyai interprestasi dan pendapat sendiri-sendiri tentang bagaimana cara menghadapi serangan dan mengembangkan sistematika beladirinya. Hal inilah yang menyebabkan perbedaan struktur pertahan diri maupun penyerangan balik.#Foto langga BuA

Kamis, 03 Maret 2016

Gerakan langga sebagai beladiri



Langga adalah istilah lokal sebagai besar masyarakat Gorontalo untuk menyebut nama ilmu Beladirinya sebuah "Local Genius Product" hasil Proses kreatif leluhur masyarakat yang menjadi salah satu identitas Ke-Gorontalo-an

 Mohudu wau mohemeto
 teknik molame uato
 Punggu=kuncian
Moragai=kembangan

Beladiri Langga dalam setiap gerakkan mengandung filisofis dan  sarat dengan sejarah yang menghadirikan "teater of Mind" sehingga bagi generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap Langga, akan menumbuhkan rasa bangga,haru dan kagum kepada para leluhur yang berjuang keras mempelajarinya secara turun-temurun.# Savelangga#tardisi#budaya# Hartono Hadjarati